Minggu, 20 Mei 2012

BAB 10 Change !

TRANSFORMASI NILAI – NILAI

Setiap perubaahan yang terjadi akan selalu mambawa nilai – nilai baru, baik nilai – nilai yang berasal dari dalam organisasi maupun nilai yang masuk dari luar organisasi, baik nilai yang dikehendaki maupun tidak dikehendaki oleh organisasi. Nilai – nilai baru tersebut akan masuk dan mempengaruhi organisasi tanpa disadari oleh siapapun. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa nilai – nilai yang dianut oleh suatu organisasi akan selalu mengalami evolusi.
Manajemen perubahan yang dilakukan harus menyentuh transformasi nilai – nilai. Jadi, organisasi yang melakukan perubahan tetap bisa berada pada koridor nilai – nilai yang dikehendaki dan meminimalisir nilai – nilai yang tidak dikehendaki. Selain itu, manjemen perubahan yang tidak menyentuh transformasi nilai akan tetap melakukan hal yang sama dengan cara yang sama pula ( statis ).
Bab ini akan membahas hal – hal yang harus dilakukan pemimpin dalam melakukan transformasi nilai – nilai institusi.
Nilai – Nilai Laten Bawaan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ketika masa transformasi perubahan selalu membawa nilai – nilai baru, terutama nilai – nilai yang tidak dikehendaki yang dating dari internal atau eksternal organisasi. Menurut Deal & Kennedy ( 1998 ), ada 7 budaya negative yang mengkontaminasi organisasi pada masa tarnsisi, yaitu :
1.      Budaya Ketakutan ( Culture Of Fear )
Dalam suatu perubahan akan ada pihak yang “menang” dan pihak yang “kalah”. Perubahan akan menimbulkan rasa ketidakpastian dan ketidaknyamanan bagi pihak yang “kalah”. Orang – orang yang merasa takut, cemas, dan tidak puas akan menyampaikan perasaannya dengan menyampaikan kabar tidak resmi dan bergosip. Mereka juga akan membentuk kelompok – kelompok kecil dengan sesamanya. Jika dibiarkan, kelompok – kelompok tersebut akan terorganisir, dan akhirnya bias saja menghambat atau menghentikan perubahan.
2.      Budaya Menyangkal ( Culture Of Denial )
Ketika mengalami suatu perubahan, biasanya manusia punya kecenderungan untuk menyangkal. Manusia akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menerima suatu perubahan. Respon pertama yang diperlihatkan biasanya adalah respon menyangkal perubahan yang terjadi, misalnya : “tidak benar”, “pasti tidak sampai kesini”, dan lain sebagainya. Ketika respon penyangkalan ini semakin banyak, maka akan menyulitkan pemimpin dalam mengambil keputusan.
3.      Budaya Kepentingan Pribadi ( Culture Of Self – Interest )
Dalam situasi perubahan, masing – masing orang akan cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi yang melekat pada dirinya. Setelah mengurus kepentingan pribadinya, mereka akan mengurus kepentingan kelompoknya. Sehingga organisasipun akan terpecah menjadi beberapa kelompok yang diwarnai pula oleh intrik dan usaha saling menjatuhkan. Akibatnya kinerja organisasi menjadi lamban dan juga proses perubahan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
4.      Budaya Mencela ( Culture Of Cynicism)
Para atasan yang mengedepankan budaya kepentingan pribadi tidak lagi mendapat respek dari para bawahannya, karena mereka akan mencela dan sinis terhadap apa yang dilakukan atsannya tersebut. Keadaan ini akan dimanfaatkan oleh pihak lain yang akan membangun kekuatan dari para bawahan tersebut untuk mengamankan kepentingan pribadinya juga. Akibatnya terjadi budaya sinisme dalam organisasi tersebut.
5.      Budaya Tidak Percaya ( Culture Of Distrust)
Ketika orang – orang dalam organisasi tersebut mulai mengedepankan kepentingan pibadi, maka secara perlahan rasa kepercayaan yang menjadi perekat organisasi pun mulai meluntur. Tanpa kepercayaan, otoritas tidak lagi mempunyai makna, transaksi antar kelompok pun akan akan sulit tercapai kesepakatan.
6.      Budaya Anomi ( Culture Of Anomie)
Proses transisi perubahan biasanya diikuti dengan peristiwa penggabungan unit (merger), pemisahan unit (spin of), penempatan orang baru, mutasi, atau promosi. Jika kepemimpinan organisasi tersebut tidak kuat atau pengelolaan transisi tidak sempurna, maka akan terjadi anomi, yaitu kehlangan jati diri, yang berakibat merasa salah terus dan rasa ketergantungan karena orang yang anomi merasa tidak berada pada tempatnya.
7.      Budaya Mengedepankan Kepentingan Kelompok ( The Rise Of Underground Subculture)
Perubahan akan menimbulkan kecemasan, bahkan issue tentang perubahan pun akan menimbulkan kegamangan. Perasaan cemas dan gamang tersebut tidak selalu diungkapkan secara terbuka. Selanjutnya, orang yang kurang senang terhadap perubahan akan berkumpul dengan kelompoknya. Lama – kelamaan, kelompok – kelompok tersebut bisa mengancam kesatuan organisasi.
Ada beberapa penyebab tumbuh suburnya bahaya laten tersebut diatas ketika masa transisi perubahan, yaitu :
·         Perubahan biasanya terjadi secara merata pada seluruh lembaga ketika masa transisi. Perasaan cemas, gamang dan takut akan mudah ditemui dan juga mudah menular dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
·         Saat ini kita sedang berada pada masa transisi dari era ekonomi lama (era industri) menuju era ekonomi baru (era informasi / era digital). Akibatnya, cara berusaha berubah menjadi lebih banyak menuntut kewirausahaan, demokratis, kompetitif dan independen.
·         Karena semakin mendominasinya peranan pasar modal dan perbankan dalam bidang perekonomian, maka prioritas hubungan perusahaan terletak pada pemegang saham. Akibatnya, hubungan saling percaya dan saling memberi antara para pekerja dengan para pemberi kerja pun mulai merenggang.
Memanfaatkan Budaya Perusahaan
Dalam manajemen, budaya korporat adalah budaya yang sengaja direkayasa oleh para pemmpin organisasi dan berkaitan erat dengan strategi. Dengan membentuk budaya yang cocok dengan lingkungannya, maka organisasi akan bisa terus survive dan bersaing. Misalnya, jika lingkungannya statis dan rutin maka bisa diterapkan budaya kepatuhan yang cenderung birokratik. Akan tetapi jika lingkungannya cenderung dinamis dan kompleks, maka bisa dibangun budaya fleksibel dan responsive.
Pengertian Budaya Korporat
Budaya adalah nilai – nilai, kepercayaan, ataupun cara andang dan cara berpikir yang dianut oleh suatu kelompok. Budaya organisasi dapat diartikan sebagai : ”norma – norma perilaku, sosial, dan moral yang mendasari setiap tindakan dalam organisasi yang dibentuk oleh kepercayaan, sikap, dan prioritas para anggotanya.” (Turner, 1992).
Sebagian besar budya organisasi tercipta tanpa disadari, berdasarkan nilai – nilai dominan yang dianut oleh para pendiri atau pimpinan puncak organisasi. Dalam manajemen, budaya korporat ini berkaitan dengan strategi organisasi. Tujuan dari adanya budaya organisasi adalah untuk menimbulkan rasa identitas dan komitmen terhadap nilai – nilai yang dianut organisasi.
Budaya korporat ini terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama adalah Visible Artifact (lapisan yang dapat dilihat scara kasat mata) yang terdiri dari cara orang berperilaku, berbicara, simbol – simbol, logo, lambang merk, slogan, ritual, figur teladan, seremonial, serta bahasa yang serig digunakan. Semuanya tersebut sering disebut dengan identitas korporat.
Lapisan kedualah yang sesungguhnya merupakan budaya. Pada lapisan kedua inilah terdapat nilai – nilai dasar, filosofi, asumsi, kepercayaan, keyakinan, perasaan, dan sejarah korporat yang menjadi dasar landasan Visible Artifact organisasi.
Menata Elemen – Elemen Budaya Korporat
Ada beberapa elemen yang saling berkaitan dan harmonis untuk menumbuhkan budaya korporat dalam suatu organisasi. Dalam proses transformasi nilai – nilai, elemen – elemen tersebut harus ditelaah kembali untuk menyelaraskan penafsirsn antara anggota organisasi.beberapa elemen tersebut yaitu :
1)      Sejarah Korporat
Sejarah adalah sumber kekuatan sebuah korporat (corporate roots). Dalam sebuah proses perubahan, sejarah korporat dapat menjelaskan tentang asal usul korporat, keberadaan saat ini, dan keberadaan di masa mendatang. Oleh karena itu, elemen ini jangan sampai dilupakan, terutama oleh para generasi baru yang membawa nilai–nilai baru dalam sebuah proses perubahan.
2)      Nilai – Nilai Dasar dan Keyakinan
Nilai – nilai adalah sesuatu yang memaknai jatidiri seseorang sebagai anggota korporasai. Sedangkan keyakinan adalah sesuatu yang dipercayai bersama. Nilai – nilai dasar dan keyakinan ini adalah fondasi dari identitas sebuah korporat yang tertuang dalam visi dan misi. Akan tetapi, nilai – nilai dasar dan keyakinan ini sering kurang dipahami oleh para anggota maupun pemimpin organisasi. Tidak adanya proses sosialisasi tentang nilai dan keyakinan tersebut, lebih mengutamakan kepentingan pemegang saham, hasil jangka pendek, adanya rekayasa keuangan mengakibatkan nilai – nilai dasar dan keyakinan tersebut hanya tinggal sebagai pajangan semeata.
3)      Simbol – Simbol yang Kasat Mata
Nilai – nilai dasar dan keyakinan adalah lapisan kedua dari budaya korporat. Lapisan kedua ini menjadi dasar dan landasan untuk lapisan pertama yang kasat mata, Visible Artifact. Lapisan Visible Artifact menterjemahkan nilai – nilai dasar dan keyakinan agar lebih mudah untuk dimengerti oleh orang – orang. Simbol – simbol ini berbentuk logo, nama perusahaan, lambing merk, dan lainnya.
4)      Bahasa
Elemen bahasa juga merupakan produk hasil dari penterjemahan nilai – nilai dasar dan keyakina. Elemen bahasa ini dapat berbentuk slogan, motto, kata – kata motivasi, filosofi, bahasa percakapan, ataupun bentuk lainnya. Misalnya : if better is possible, good is not enough!, something always comes from nothing, dan lain sebagainya.
5)      Ritual Seremoni
Ritual adalah sebuah kegiatan yang bersifat ekspresif yang dilakukan melalui serangkaian langkah yang konsisten dan berulang – ulang. Ritual seremoni ini digunakan untuk menanamkan nilai – nilai dan juga untuk mengembangkan budaya korporat sebuah organisasi. Ritual seremoni ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa anggota organisasi itu diakui dan dihargai, yang nantinya anggota tersebut akan berkomitmen pada perusahaan. Ada berbagai macam bentuk ritual seremoni ini,yaitu :
Ø  Ritual Penerimaan, yang bertujuan sebagai orientasi dan simol resminya seseorang menjadi anggota organisasi.
Ø  Ritual Penguatan, bertujuan untuk memperteguh identitas sosial dan meningkatkan status angota organisasi yang menjadi lebih senior.
Ø  Ritual Pembaruan, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan nilai – nilai lainnya melalui suatu program pelatihan.
Ø  Ritual Integrasi,  dimaksudkan untuk menciptakan kebersamaan diantara karyawan dan menimbulkan komitmen terhadap organisasi.
Ø  Ritual Perpisahan, dan lain sebagainya.
Karakteristik Budaya Korporat
Budaya dari suatu kelompok akan menggambarkan bagaimana cara pandang dan cara berpikir  yang melandasi cara bertindak yang diyakini oleh anggota kelompok tersebut. Cara – cara tersebut kebanyakan dibentuk melalui suatu proses belajar dan  dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Karena budaya adalah suatu proses belajar, maka budaya bisa saja diintervensi. Dan untuk menginterpensi tersebut perlu dipahami karakteristik budaya korporat.  Beberapa karakteristik budaya korporat yang diterangkan oleh Charles Hampden – Turner (1992), yaitu :
Ø  Budaya korporat dibentuk oleh keyakinan individu – individu korporat.
Budaya dibentuk oleh orang – orang yang mempunyai kesamaan atau saling mencocokan. Hal itu dimaksudkan untuk bisa saling bekerjasama dengan lebih mudah dalam melakukan aktivitas dan kerja organisasi.
Ø  Budaya korporat mencerminkan aspirasi – aspirasi anggotanya.

Budaya dapat menjadi sumber motivasi dan aspirasi para anggota kelompok. Pada suatu tahapan tertentu, para anggota akan mengkristalkan apa yang diinginkan menjadi norma – norma.norma – norma yang ada pada budaya korporat akan menjadi dasar pedoman dalam berorganisasi.
Ø  Budaya korporat memiliki sosiodinamika
Menurut studi yang dilakukan oleh Charles Heckscher, Michael Maccoby, Refael Ramirez, dan Pierre Eric Tiskien bahwa sosiodinamika adalah ciri yang penting pada masa perubahan. Sosiodinamika akan tampak pada identitas organisasi, karena budaya terbentuk melalui proses, apa yang ada hari ini adalah karena proses di masa lalu. Sosiodinamika mencerminkan bagaimana suatu organisasi menghadapi perubahan, di satu sisi mereka harus menerimanya, akan tetapi disisi lain jika perubahan itu bertentangan dengan identitas organisasi, mereka tidak mau menerima begitu saja atau bisa juga melawannya.
Ø  Budaya korporat memiliki konsekuensi
Segala sesuatunya tentu akan mempunyai konsekuensinya, begitu juga dengan budaya korporat dalam suatu organisasi. Konsekuensi tersebut mempunyai bentuk positif maupun bentuk negatif. Konsekuensi positif yaitu bahwa dari suatu budaya korporat dapat membentuk keyakinan dan nantinya menciptakan kinerja. Sedangkan bentuk negatifnya adalah adalah meningkatnya kekecewaan dan ketegangan – ketegangan.
Ø  Budaya korporat sulit dipahami
Karena adanya perbedaan persepsi setiap orang, maka suatu budaya korporat menjadi sulit untuk dipahami. Terkadang budaya korporat hanya memuaskan atasan saja tanpa mewakili keadaan yang sesungguhnya.
Ø  Budaya korporat membentuk identitas,memperkuat image, positioning, dan pencapaian tujuan
Budaya akan membentuk suatu identitas kultural bagi organisasi. Dan organisasi dapat mempertahankan identitas tersebut bila nilai, asumsi dan keyakinan mengalami pertukaran, berbeda, dan tetap dipegang teguh dalam setiap saat.
Ø  Budaya menuntut keseimbangan antara nilai – nilai
Budaya adalah gabungan nilai – nilai dan pikiran yang dapat berjalan dengan baik jika unsur – unsurnya seimbang. Hal ini dapat diumpamakan ketika kita naik sepeda harus menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh. Maka dalam budayapun sama halnya demikian, harus ada keseimbangan antara berubah dan dan stabil.
Ø  Budaya korporat “belajar”
Supaya budaya bisa tumbuh dan survive, maka budaya harus belajar dan mengambil manfaat dari feedback yang diberikan lingkungannya.
Ø  Budaya adalah pola
Budaya itu seperti virus, jika ditanamkan ke induknya akan menyebar keseluruh bagian dan menimbulakan efek yang sama. Budaya akan bekerja dan membentuk sebuah pola. Budaya yang ada pada hubungan atasan dan bawahan akan tercermin pada budaya hubungan perusahaan dengan pelanggan.
Ø  Budaya membentuk hubungan sinergi
Meskipun sub budaya mempunyai perbedaan, akan tetapi sub – sub tersebut akan bersinergi membentuk sebuah kesatuan yang berpola.
Ø  Budaya terdiri atas subkultur
Suatu budaya besar akan terdiri dari berbagai subkultur yang saling berkaitan, bekerjasama, dan merekatkan diri.adanya berbagai subkultur ini bisa memperkaya khasanah organisasi. Akan tetapi, jika terdapat konflik yang berkepanjangan, maka subkultur tersebut dapat menjadi ancaman bagi integrasi kesatuan organisasi.
Penutup : Budaya Perusahaan dan Strategi Manajemen
Ada empat jenis strategi yang diperkenalkan oleh Denison (1990)yang didasarkan dua focus.fokus pertama adalah keadaan linkungan kompetitif yang menuntut tindakan mengubah atau mendiamkan, dan fokus kedua adalah focus strategi : intern atau ekstern. Startegi tersebut adalah :
a)      Budaya Adaptasi
Budaya ini dianut oleh institusi yang berada pada ingkungan yang tidak stabil dengan focus perhatian strategi pada kegiatan eksteren. Institusi dan anggotanya dituntut harus bisa cepat dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang terjadi.
b)      Budaya Misi
Budaya ini dianut oleh institusi yang berada pada lingkungan yang stabil, dan focus perhatian strategi pada kegiatan eksteren. Dalam budaya ini, institusi dan anggotanya percaya bahwa visi – misi institusi adalah untuk melayani orang. Sehingga mereka akan menyebarluaskan visi – misi tersebut .
c)      Budaya partisipatif
Budaya ini focus pada kegiatan interen, yaitu pada keterlibatan anggota terhadap perubahan lingkungan yang cepat. Institusi akan mengembangkan rasa kebersamaan kepemilikan, dan komitmen yang tinggi pada lembaga. Rasa kepemilikan ini dikembangkan melalui profit sharing atau gain sharing (seperti kepemilikan bersama dalam sebuah koperasi)
d)     Budaya konsisten
Budaya ini focus pada kegiatan interen yang keadaan lingkungannya stabil. Walaupun partisipasi individu tidak terlalu menonjol, tapi diimbangi dengan kerjasama dan penyesuaian diri. Sehingga keberhasilan institusi ditimbulkan karena hubungan antar bagian yang bersatu dan bekerja secara efisien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar